"sendirian aja,", tanyaku pada seseorang yang sedari tadi duduk mematung memandang hujan.
"eh, iya" jawabmu singkat.
"boleh duduk," kukatakan dengan penuh ketenangan,
Ku ambil posisi persis disampingmu, aku hanya penasaran apa yang kamu lakukan di depan perpustakaan kampus dengan tumpukan buku diatas tas berwarna pink tersebut. Sembari aku menunggu jemputan dari supirku, kubuka percakapan pertama kali.
"what are you doing," dengan sedikit aksen british yang mulai kupelajari akhir-akhir ini
Engkau memilih diam, sembari menggerakkan tangan ke percikan air yang jatuh dari atas langit. Entah sudah berapa rintik hujan yang jatuh tepat ditelapak tangannya,
"apa kau suka hujan," tanyamu singkat.
"sejujurnya tidak terlalu,"
"why?"
"aku dulu selalu dimari Ibu ku apabila pulang ke rumah dengan tubuh basah karena air hujan,"
"dasar anak mama!"
"hahah, bukan seperti itu"
"lantas apa, hujan itu salah satu berkah Tuhan untuk umatnya, agama mengajarkan untuk selalu mensyukuri atas semua pemberian-Nya," balasmu, dengan senyum tipis tapi manis.
Sedetik kemudian aku terpana dengan senyuman tersebut, tipis tapi manis. Aku kehabisan kata, bahkan untuk sekedar mengedipkan mata pun aku enggan melakukannya. Tapi nampaknya kamu tahu kalau aku sedang memperhatikanmu. Genangan air ditelapak tanganmu, sedetik kemudian sudah membasahi wajahku.
"apa liat-liat,"
"ehh, maaf-maaf,"
"itu jemputanmu bukan, mobil avanza putih depan kampus?"
"ohh iyaa, mau pulang bareng?"
"gak, gak usah masih ada urusan,"
Aku pun melangkah meninggalkanmu, dengan tanda tanya besar dalam pikiranku, siapa kamu ? mahasiswi jurusan apa ? atau jangan-jangan kita satu fakultas. Ah sudahlah, aku terlalu pengecut untuk sekedar meminta nomor telponmu. Aku benci diriku, yang tak punya nyali untuk sekedar bertanya namamu.
No comments:
Post a Comment